Upaya Pentingnya Penekanan PHS

PHS atau penyakit hubungan seksual dapat menimbulkan infeksi akut (mendadak) yang memerlukan penanganan yang tepat, karena dapat menjalar ke alat genitalia bagian dalam (atas) dan menimbulkan penyakit radang panggul.
Di Indonesia penyakit ini telah mulai menjalar dengan perkembangan penularan yang cukup cepat tidak dapat disangkal bahwa mata rantai penularan penyakit hubungan seksual adalah wanita tunasusila yang dapat menyusup dalam kehidupan rumah tangga. Dalam pertemuan diatlanta USA tentang penyakit hubungan seksual, menyatakan bahwa mata rantai yang ditularkan oleh WTS tidak dapat dihilangkan tetapi hanya mungkin diperkecil perannya.
Upaya penekanan penyebaran penyakit hubungan seksual yang menimbulkan masalah dan malapetaka dalam rumah tangga adalah dengan mempergunakan kondom, dalam berbagai penelitian yang disampaikan pada pertemuan nasional dan internasional dikemukakan bahwa peranan kondom sebagai alat proteksi terhadap penyebaran penyakit hubungan seksual sangat besar, sehingga dianjurkan untuk selalu mempergunakannya bila berhubungan dengan wanita tuna susila.
Dalam upaya pemerintah untuk mengurangi penyebaran penyakit hubungan seksual dilakukan beberapa langkah diantaranya lokalisasi WTS sehingga dengan mudah dikontrol dan diberikan proteksi pengobatan sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit hubungan seksual.

Menurut pendapat saya mata rantai penularan hubungan seksual memang sulit di hilangkan. Penekanan penyakit hubungan seksual dengan kondom tidak 100% sukses mengingat banyak kasus penggunaan kondom ketika berhubungan seksual tidak mencegah kehamilan dengan sebab-sebab tertentu dan penggunaan kondom juga bisa mengakibatkan iritasi, infeksi, gatal-gatal, dan menimbulkan ketidaknyamanan serta ketidakpuasan dalam hubungan seksual. Walau bagaimanapun pemakaian kondom setidaknya bisa mengurangi angka penularan penyakit hubungan seksual.

VARISES Harus Ditangani Dengan Benar

VARISES vena disebabkan oleh pengumpulan darah pada pembuluh darah balik ( vena ) bagian perifer akibat tidak efisiennya katup yang ada. Pada kondisi normal, katup vena mencegah darah kembali mengalir ke tungkai. Peningkatan volume darah dan tekanan dapat melambatkan aliran darah yang menyebabkan pembesaran atau pembengkakan dari pembuluh balik itu.
Varises vena merupakan penyakit ke – 3 yang dikeluhkan sering kambuh, setelah alergi da hipertensi. Biasanya keluhan varises vena lebih menyangkut sisi kosmetik ( estetika ). Perbandingan kejadian antara perempuan dan laki – laki adalah 20 – 25% : 10 – 15%.

Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya varises vena:
1. Herediter / genetic.
2. Perempuan ( hormone progesterone ).
Kehamilan meningkatkan kerentanan.
3. Umur tua.
4. Gaya hidup / kebiasaan: berdiri terlalu lama, kegemukan , merokok.

Gejala dan Tanda
Keluhan varises vena dapat berupa pelebaran vena yang berwarna biru dipermukaan kulit, gatal, dan menyebabkan rasa tidak nyaman. Kaki dan persendian dapat menjadi bengkak. Gejala tersebut akan bertambah berat bila pasien berdiri terlalu lama. Selanjutnya paabila terjadi insufisiensi vena kronis dapat memicu kerusakan kulit dan jaringan lunak dibawahnya lebih lanjut yang dapat menyebabkan kerusakan lebih berat.

Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik yang dilakukan berupa:
1. Inspeksi.
Inspeksi pada kulit untuk melihat adanya perubahan kulit dan pelebaran vena.
2. Palpasi.
Palpasi dilakukan pada seluruh permukaan kulit untuk menilai pelebaran vena dan apakah didapatkan adanya nyeri tekan.
3. Perkusi.
Perkusi juga dilakukan untuk menilai keadaan katup vena.
4. Pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosis varises yaitu dengan melakukan menuver Perthes atau maneuver Tredelenburg, Doppler, USG, dan MRI.

Penanganan
Penatalaksanaan varises dapat berupa terapi non–operatif. Terapi non-operatif sangat mudah dilakukan dan memerlukan biaya yang relative lebih murah namun angka rekurensinya masih cukup tinggi. Terapi non-operatif adalah menggunakan stoking kompresi, skleroterapi, dan terapi minimal invasive ( radiofrekuensi ablasi, endovenous Laser Therapy). Terapi operatif ( Ambulatory phlebectomy, saphectomy stripping) biasanya memberikan hasil yang lebih baik dengan angka rekurensi yang lebih rendah. Kekurangannya adalah biaya yang relative lebih mahal. Baik terapi non-operatif maupun operatif dapat menimbulkan komplikasi. Terapi yang tepat dan adekuat akan menurunkan progresifitas varises vena. Prognosis baik bila tidak ada komplikasi seperti perdarahan, thromboemboli, dan refluks yang terjadi tidak terlalu berat.

Mencegah Varises
1. Hindari duduk atau berdiri yang terlalu lama, ubah posisi secara berkala.
2. Hindari berada dalam posisi yang membatasi peredaran darah pada tungkai ( nseperti menyilangkan kaki ketika duduk).
3. Tinggikan posisi tungkai dan kaki ketika duduk.
4. Berolahraga secara teratur.
5. Pemakaian stoking kompresi.

sumber: Dokter Kita